Kisah Manusia yang Tidak Dilalaikan dengan Urusan Dunia (sufi)

5 Sep 2011


image from : http://ketakketikketuk.tumblr.com

image from : http://ketakketikketuk.tumblr.com

Muhammad bin Sirin[1] adalah imam Ahlus sunnah yang sangat terkenal dalam berpegang teguh dengan sunnah Rasulullahshallallahu alahi wa sallam dan sangat terpercaya dalam meriwayatkannya. Akan tetapi tahukah Anda bahwa beliau juga disifati oleh para ulama di jamannya sebagai orang yang sangatwara (hati-hati dalam masalah halal dan haram) dan tekun dalam beribadah.

Imam adz-Dzahabi menukil dari Abu Awanah Al-Yasykuri, beliau berkata, Aku melihat Muhammad bin sirin di pasar, tidaklah seorangpun melihat beliau kecuali orang itu akan mengingat Allah[2].

Subhanallah, betapa mulianya sifat imam besar ini. Betapa tekunnya beliau dalam beribadah dan berzikir kepada AllahSubhanahu wa Taala. Sehingga sewaktu berada di pasar dan sedang berjual-belipun hal tersebut tampak pada diri beliau.

Bukankah wajar kalau orang yang sedang beribadah di masjid kemudian orang yang melihatnya mengingat AllahSubhanahu wa Taala? Tapi seorang yang sedang berjual-beli di pasar dengan segala kesibukannya, akan tetapi sikap dan tingkah lakunya bisa mengingatkan kita kepada AllahSubhanahu wa Taala? Bukankah ini menunjukkan bahwa orang-orang yang shalih selalu menyibukkan diri dengan berzikir dan beribadah kepada-Nya dalam semua keadaan?

Benarlah sabda Rasulullahshallallahu alahi wa sallam, Wali-wali (kekasih) Allah adalah orang-orang yang jika mereka dipandang maka akan mengingatkan kepada Allah[3].

Teladan kita berikutnya adalah imam Ibrahim bin Maimun Ash-Sha-igh, seorang imam Ahlus sunnah dari generasiAtbaut Tabiin. Imam Ibnu Hajar Al-Asqalani menukil dalam biografi beliau bahwa pekerjaan beliau adalah tukang menempa logam, tetapi jika beliau telah mendengarkan seruan azan shalat, maka meskipun beliau telah mengangkat palu, beliau tidak mampu untuk mengayunkan palu tersebut dan beliau segera meninggalkan pekerjaannya untuk melaksanakan shalat[4].

Lihatlah betapa besar ketakutan dan pengagungan terhadap AllahSubhanahu wa Taala di dalam hati orang-orang yang bertakwa sehingga kesibukan apapun yang mereka kerjakan sama sekali tidak melalaikan mereka dari memenuhi panggilan untuk beribadah kepada-Nya.

Maha benar AllahSubhanahu wa Taala yang berfirman,

{?????? ?????? ????????? ????????? ??????? ?????????? ???? ??????? ??????????}

Demikianlah (perintah Allah), dan barangsiapa yang mengagungkan syiar-syiar (perintah dan larangan) Allah, maka sesungguhnya itu timbul dari ketakwaan (dalam) hati. (QS. Al-Hajj: 32).

Beberapa pelajaran berharga yang dapat kita petik dari dua kisah di atas:

- Orang mukmin yang bertakwa adalah orang yang tidak disibukkan dengan urusan dan kesibukan dunia dari mengingat AllahSubhanahu wa Taala, inilah yang dipuji oleh AllahSubhanahu wa Taala dalam firman-Nya,

{??????? ??? ??????????? ????????? ????? ?????? ???? ?????? ??????? ????????? ?????????? ?????????? ?????????? ?????????? ??????? ??????????? ????? ?????????? ??????????????}

Laki-laki yang tidak dilalaikan oleh perniagaan dan tidak (pula) oleh jual beli dari mengingat Allah, mendirikan shalat, dan menunaikan zakat. Mereka takut pada hari (pembalasan) yang (pada saat itu) hati dan penglihatan menjadi goncang. (QS. An-Nuur: 37).

Imam Ibnu Katsir berkata, Mereka adalah orang-orang yang tidak disibukkan/dilalaikan oleh harta benda dan perhiasan dunia, serta kesenangan berjual-beli dan meraih keuntungan (besar) dari mengingat (beribadah) kepada Rabb mereka (AllahSubhanahu wa Taala) Yang Maha Menciptakan dan Melimpahkan rezeki kepada mereka, dan mereka adalah orang-orang yang mengetahui (meyakini) bahwa (balasan kebaikan) di sisi AllahSubhanahu wa Taala adalah lebih baik dan lebih utama daripada harta benda yang ada di tangan mereka, karena apa yang ada di tangan mereka akan habis/musnah sedangkan balasan di sisi Allah adalah kekal abadi[5].

- Tempat bekerja dan berjual-beli sangat berpotensi untuk melalaikan manusia dari mengingat Allah Subhanahu wa Taala, maka menyebut dan mengingat AllahSubhanahu wa Taala di tempat-tempat tersebut sangat besar keutamaannya di sisi AllahSubhanahu wa Taala.

Imam Ath-Thiibi berkata, Barangsiapa yang berzikir kepada Allah (ketika berada) di pasar maka dia termasuk ke dalam golongan orang-orang yang AllahSubhanahu wa Taala berfirman tentang keutamaan mereka (dalam ayat di atas)[6].

- Mengambil contoh teladan dari kisah-kisah para ulama salaf adalah termasuk sebaik-baik cara untuk memotivasi diri sendiri guna meningkatkan ketakwaan kepada AllahSubhanahu wa Taala. Hal ini disebabkan jiwa manusia itu lebih mudah mengambil teladan dari contoh yang berupa kisah nyata, dan menjadikannya lebih semangat dalam beramal serta bersegera dalam kebaikan[7].

Oleh karena itu, AllahSubhanahu wa Taala berfirman kepada Nabi Muhammadshallallahu alahi wa sallam,

{?????? ??????? ???????? ???? ????????? ????????? ??? ????????? ???? ????????? ????????? ??? ?????? ???????? ???????????? ????????? ???????????????}

Dan semua kisah para rasul Kami ceritakan kepadamu, ialah kisah-kisah yang dengannya Kami teguhkan hatimu; dan dalam surat ini telah datang kepadamu kebenaran serta pengajaran dan peringatan bagi orang-orang yang beriman. (QS. Huud: 120).

Imam Abu Hanifah pernah berkata, Kisah-kisah (keteladanan) para ulama dan duduk di majelis mereka lebih aku sukai dari pada kebanyakan (masalah-masalah) fikih, karena kisah-kisah tersebut (berisi) adab dan tingkah laku mereka (untuk diteladani)[8].

???? ???? ???? ????? ??? ????? ???? ???? ????? ??????? ???? ?????? ?? ????? ??? ?? ????????

Kota Kendari, 1 Rabiul akhir 1432 H.

Penulis: Abdullah bin Taslim Al-Buthani, M.A.
Artikelwww.Pengusahamuslim.com

[1] Beliau adalah Imam besar dari generasi Tabiin, sangat terpercaya dan teliti dalam meriwayatkan hadits Rasulullahshallallahu alahi wa sallam (wafat 110 H.), Biografi beliau dalamTahdzibul Kamal (25/344) danSiyaru Alaamin Nubala (4/606).
[2] KitabSiyaru Alaamin Nubalaa (4/610).
[3] HR. Ath-Thabrani dalamAl-Mujamul Kabiir (no. 12325), Dhiyauddin Al-Maqdisi dalamAl-Ahaaditsul Mukhtaarah(2/212) dan lain-lain, hadits ini dinyatakan hasan oleh Syaikh Al-Albani dalamAsh-Shahiihah (no. 1733) karena diriwayatkan dari berbagai jalur yang saling menguatkan.
[4] Lihat kitabTahdziibut Tahdziib (1/150).
[5] KitabTafsir Ibnu Katsir, (3/390).
[6] Dinukil oleh Al-Mubarakfuri dalam kitabTuhfatul Ahwadzi, (9/273).
[7] Lihat keterangan Syaikh Abdurrahman As-Sadi dalam tafsir beliau (hal. 271).
[8] Dinukil oleh imam Ibnu Abdil Barr dengan sanadnya dalam kitabJaamiu Bayaanil Ilmi wa Fadhlihi (no. 595).


TAGS Ikhlas Jemaah Wahai anakku iman ikhsan


-

Author

Follow Me